(BBCIndonesia.com, 30 January 2007)
Sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam dalam 30 tahun mendatang, akibat terus meningkatnya permukaan air laut akibat pemanasan global. Asumsi tenggelamnya sekitar 2.000 pulau sebelum tahun 2030 tersebut berdasarkan data Panel Ahli PBB tentang perubahan iklim, IPCC yang menyebutkan tingkat kenaikan air laut di Indonesia mencapai 90 cm menjelang tahun tersebut.
Dengan kenaikan permukaan air akibat pemanasan global tersebut, kata Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, maka pulau-pulau rendah akan tenggelam. Selain menenggelamkan ribuan pulau, menurut ahli cuaca-iklim, Agus Paulus Winarso, pemanasan global di Indonesia sudah langsung bisa dirasakan oleh masyarakat saat ini.
Di Indonesia, pegiat lingkungan mengatakan langkah pemerintah mengatasi pemanasan global masih minim.



Sayangnya hampir semua state actors di Indonesia tidak suka memikirkan hal-hal yang jangka panjang secara serius. Menurutnya, 30 tahun masih amatlah lama, mendingan memikirkan bagaimana mempertahankan dan menaikkan jabatan dan posisi mereka ketimbang memikirkan sesuatu yang terlalu lama dimana kemungkinan mereka tidak akan menikmatinya lagi.
Demikian halnya dengan sebagian masyarakat kita, mereka berpikir sama akan hal ini, memikirkan sesuatu yang terlalu lama berarti melupakan sesuatu untuk hari ini. Yang wajib terpikirkan bagi mereka adalah yang penting mereka dapat makan dan keuntungan hari ini.
Pada sisi lain, sebagian besar LSM di Indonesia yang diharapkan sebagai pihak ketiga dan juga tampil sebagai pilar utama dalam hal development hanya akan berbuat jika ada kucuran funds. Dengan kata lain, sebagian dari mereka adalah lembaga independent yang diragukan keindependenannya.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan, dengan asumsi usual scenario, dapatlah diramalkan bahwa penyelamatan pulau-pulau yang akan tenggelam di Indonesia hanyalah sebatas wacana. Kemungkinan actions ada tapi tidak akan menyelamatkan pulau2 tersebut.
Nah..gimana dong nasib pulau – pulau kita?
Menurut saya, starting point dalam upaya menciptakan `peluang keselamatan` adalah dengan jalan mereformasi planning style dari development actors. Diharapkan, mereka tidak boleh lagi melupakan orientasi jangka panjang dan mengurangi dominasi gaya incrementalisnya dalam pembangunan. Dari titik ini, diyakini akan menumbuhsuburkan sejumlah cabang – cabang solusi yang tentunya tidak hanya akan menyelamatkan pulau – pulau kita, tetapi juga kesustainabilitynya.